JOMBANG,Jatim.News.com – Mahasiswa UNWAHA terus mendorong pengembangan potensi ekonomi masyarakat Desa Asemgede, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang. Salah satunya melalui program ASWIRA yang digelar di Balai Desa Asemgede, Ahad (9/8/2026).
Mengusung semangat “Berkarya, Berdaya, Berjaya”, program ASWIRA kali ini mengambil tema pelatihan pembuatan tas dari anyaman pandan sekaligus pengenalan branding, packaging dan digital marketing. Kegiatan tersebut diarahkan untuk menggali sekaligus mengembangkan potensi lokal Desa Asemgede, khususnya keterampilan mengolah daun pandan menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung membuat dan menghias tas berbahan anyaman pandan. Selain keterampilan produksi, peserta diperkenalkan dengan pentingnya branding dan identitas produk, packaging yang menarik, serta strategi digital marketing untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Pelatihan diikuti ibu PKK Desa Asemgede dengan antusias. Mereka mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang berpotensi menjadi aktivitas ekonomi produktif berbasis rumah tangga. Kepala Desa Asemgede, Lastinah, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pengembangan kerajinan berbahan daun pandan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan masyarakat desa. Dukungan tersebut menjadi penting karena pengembangan anyaman pandan tidak hanya berkaitan dengan keterampilan membuat produk, “bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru bagi Masyarakat”, ujarnya
Respons positif juga datang dari ibu-ibu PKK yang mengikuti pelatihan. Mereka mengaku senang karena memperoleh pengalaman baru dalam membuat tas dari anyaman pandan sekaligus mendapatkan wawasan mengenai bagaimana sebuah produk dapat dikemas dan dipasarkan secara lebih menarik.
Materi branding, packaging, dan digital marketing juga mendapat perhatian peserta. Mereka mulai memahami bahwa produk kerajinan lokal tidak cukup hanya memiliki kualitas, tetapi juga membutuhkan identitas, kemasan dan strategi pemasaran yang mampu membuat produk lebih dikenal konsumen. Antusiasme bahkan terlihat ketika peserta mulai menghias dan memberikan sentuhan kreatif pada tas hasil anyaman mereka.
Menariknya, antusiasme tidak hanya datang dari masyarakat. Mahasiswa KKN Kelompok 24, khususnya mahasiswi, juga turut menikmati proses pelatihan. Salah seorang peserta yang ikut dalam kegiatan tersebut bahkan secara spontan mengungkapkan kegembiraannya kepada mahasiswa KKN. “Mbak, aku seneng bisa ikut prokernya sampean, soalnya seru bisa menghias tas.”, Selorohnya sambil terus menganyam pandan.
Ungkapan sederhana tersebut menunjukkan bahwa program ASWIRA tidak hanya menyasar aspek ekonomi, tetapi juga menciptakan ruang interaksi dan pembelajaran yang menyenangkan bagi masyarakat. Bagi mahasiswa KKN, kegiatan tersebut sekaligus menjadi proses belajar untuk memahami bahwa potensi ekonomi desa sering kali tumbuh dari keterampilan sederhana yang telah dimiliki masyarakat, tetapi membutuhkan sentuhan inovasi, pengemasan dan akses pasar agar memiliki nilai tambah.
Dosen DPL KKN UNWAHA, Moh. Ja’far Sodiq, M., mengatakan program ASWIRA tidak seharusnya berhenti pada pelatihan. Menurutnya, kegiatan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan membangun identitas produk yang kuat. Karena itu, ASWIRA sangat layak dicanangkan menjadi brand produk anyaman pandan Desa Asemgede.
“Selanjutnya ASWIRA dicanangkan sebagai brand produk anyaman pandan. Mahasiswa tidak cukup hanya mengajarkan cara membuat produk, tetapi juga harus membantu pengrajin Asemgede agar produknya bisa go national melalui platform digital. Ini bagian dari modernisasi usaha lokal di era kekinian,” ujar Ja’far.
Menurutnya, transformasi produk lokal menuju pasar yang lebih luas membutuhkan tiga hal utama: kualitas produk, identitas merek, dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital. Dengan branding ASWIRA, produk anyaman pandan Asemgede diharapkan memiliki identitas yang lebih kuat sehingga mudah dikenali dan dikembangkan sebagai produk unggulan desa. “Pandan mungkin tumbuh sederhana di sekitar kita, tetapi ketika diolah dengan kreativitas, diberi identitas, dikemas dengan baik, dan dipasarkan melalui platform digital, ia bisa memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar,” tambahnya.
Program ASWIRA menjadi salah satu bentuk nyata pengabdian KKN UNWAHA Kelompok 24 dalam mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. Ke depan, pengembangan ASWIRA diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membuat tas, tetapi berlanjut pada pengembangan berbagai produk turunan anyaman pandan, peningkatan kualitas desain, standardisasi produk, penguatan kemasan, fotografi produk, hingga pemasaran melalui media sosial dan Marketplace.
Berkarya, Berdaya, Berjaya. Dari Asemgede untuk Indonesia. (red)
LAMONGAN, Jatim.News.com – Semangat kebangsaan terpancar jelas di wilayah Dusun Dermo, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan.…
BOJONEGORO, Jatim.News.com - Dalam upaya mendukung pengembangan ekonomi lokal danmeningkatkan daya saing pelaku Usaha Mikro,…
Lamongan, Jatim.News.com - Polres Lamongan bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait penemuan seorang pria yang…
LAMONGAN, Jatim.News.com - Semangat menyambut Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai menggema di…
SIDOARJO, Jatim.News.com - Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa KKN Terpadu Kelompok 14 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo…
Lamongan, Jatim.News.com - Mengawali bertugas sebagai Kapolres Lamongan, AKBP Adhytiawarman Gautama Putra, Ph.D. langsung mengimplementasikan…